NEWSTUJUH.ID, JAKARTA — Polres Metro Jakarta Utara mengungkap adanya modus baru dalam kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor) yang kian berkembang di wilayahnya. Dalam pola terbaru ini, pelaku melibatkan perempuan sebagai “joki” untuk mengelabui masyarakat.
Hal tersebut disampaikan oleh Kasat Reskrim Awaludin Kanur dalam wawancara di Mapolres Metro Jakarta Utara, Selasa (14/4/2026).
Tanjung Priok dan Kawasan Pelabuhan Jadi Titik Rawan
Menurut Awaludin, wilayah dengan tingkat kerawanan tertinggi berada di sekitar Tanjung Priok dan kawasan pelabuhan.
“Untuk wilayahnya masih sekitar pelabuhan dan daerah-daerah Tanjung Priok,” ujarnya.
Kawasan tersebut memiliki aktivitas tinggi sehingga kerap dimanfaatkan pelaku untuk menjalankan aksi kejahatan jalanan, termasuk pencurian dengan kekerasan (curas) dan curanmor.
Mayoritas Pelaku Merupakan Residivis
Dari hasil pengungkapan kasus, kepolisian mencatat sebagian besar pelaku merupakan residivis atau pelaku berulang.
“Rata-rata yang kita amankan itu residivis,” kata Awaludin.
Menurutnya, hal ini menjadi tantangan karena pelaku yang sudah pernah dihukum cenderung mengulangi kejahatan dengan modus yang lebih rapi dan terorganisir.
Modus “Pacaran” untuk Mengelabui Warga
Salah satu modus yang kini marak adalah pelaku beraksi secara berpasangan dengan berpura-pura sebagai pasangan kekasih.
“Mereka jalan seperti pacaran ke satu tempat, lalu mengambil motor,” ungkapnya.
Modus ini dinilai efektif karena tidak menimbulkan kecurigaan, baik dari masyarakat maupun petugas di lapangan.
Perempuan Berperan sebagai Joki
Dalam skema kejahatan tersebut, perempuan tidak hanya berperan sebagai pendamping, tetapi juga aktif dalam aksi pencurian.
“Perannya sebagai joki,” jelas Awaludin.
Dari sembilan kasus curanmor yang diungkap, polisi baru mengamankan satu pasangan pelaku di kawasan Tanjung Priok.
Motor Premium Jadi Target Utama
Pelaku umumnya membidik kendaraan dengan nilai jual tinggi, salah satunya Yamaha NMAX.
“Harga jualnya lebih mahal, jadi diprioritaskan,” ujarnya.
Meski teknologi keamanan kendaraan semakin canggih, pelaku dinilai terus beradaptasi dengan mempelajari celah untuk melancarkan aksi.
Dugaan Jaringan Masih Didalami
Terkait kemungkinan adanya jaringan terorganisir, termasuk dugaan keterlibatan mantan pekerja pabrik kendaraan, kepolisian masih melakukan pendalaman.
“Belum ada indikasi ke sana, tapi masih kami dalami,” kata Awaludin.
Respons Laporan Premanisme
Menanggapi informasi dugaan pemalakan di Simpang Lima Semper dan aktivitas premanisme di kawasan Rawa Malang, Cilincing, pihak kepolisian menyatakan akan segera melakukan pengecekan.
“Kami akan tindak lanjuti informasi yang masuk,” ujarnya.
Polisi juga membuka akses pelaporan bagi masyarakat melalui berbagai kanal, termasuk sistem pengaduan daring.
Peran Masyarakat Jadi Kunci
Awaludin menegaskan bahwa keberhasilan pengungkapan kasus tidak lepas dari partisipasi masyarakat.
Ia mengimbau warga untuk:
- segera melaporkan indikasi kejahatan
- meningkatkan kewaspadaan lingkungan
- berperan aktif dalam menjaga keamanan
“Tanpa informasi dari masyarakat, akan sulit mengungkap secara cepat,” tegasnya.
Baca Juga : Polres Metro Jakarta Utara Mengungkap 15 Kasus, 26 Tersangka Diamankan.
Tantangan Keamanan di Wilayah Perkotaan
Fenomena residivis, modus penyamaran, hingga keterlibatan perempuan menunjukkan bahwa pola kejahatan di wilayah urban seperti Jakarta Utara semakin kompleks.
Kepolisian akan terus mengembangkan strategi penindakan dan pencegahan guna menekan angka kriminalitas, khususnya di titik rawan seperti kawasan pelabuhan dan permukiman padat.








