Larung Sembonyo Prigi 2026, Konvoi Kapal Hias Antar Tumpeng ke Tengah Laut

Larung Sembonyo Prigi 2026 di Trenggalek berlangsung meriah dengan konvoi kapal hias yang membawa tumpeng agung ke tengah laut. (Foto : Bayu Krisna, NewsTujuh.id)
Larung Sembonyo Prigi 2026 di Trenggalek berlangsung meriah dengan konvoi kapal hias yang membawa tumpeng agung ke tengah laut. (Foto : Bayu Krisna, NewsTujuh.id)

NEWSTUJUH.ID, TRENGGALEK — Kemeriahan tak terbendung mewarnai puncak tradisi Labuh Laut Larung Sembonyo di , Kamis (23/4/2026). Jika arak-arakan tumpeng di darat sudah memikat, maka panggung sesungguhnya justru tersaji di laut—ketika puluhan kapal nelayan berhias berkonvoi mengantar tumpeng agung menuju tengah samudra.

Dari dermaga , kapal-kapal berwarna-warni mulai bergerak serempak. Dihiasi bendera, janur, hingga ornamen khas pesisir, armada nelayan itu menjelma menjadi parade terapung yang memukau di perairan .
Bukan sekadar iring-iringan biasa, konvoi kapal ini dipenuhi antusiasme warga. Ratusan masyarakat turut naik ke atas kapal, berdesakan namun tetap penuh kegembiraan, demi bisa menjadi bagian dari prosesi sakral tersebut. Teriakan semangat, tabuhan musik tradisional, hingga lantunan doa berpadu dengan debur ombak, menciptakan suasana yang riuh sekaligus khidmat.

Sepanjang perjalanan menuju titik larung, kapal-kapal bergerak beriringan, saling menjaga formasi. Dari kejauhan, konvoi itu tampak seperti lautan warna yang bergerak dinamis, menghadirkan pemandangan langka yang hanya bisa ditemui saat Sembonyo.

“Setiap tahun selalu ramai, tapi di laut ini rasanya beda. Semua ikut, semua senang,” ujar Restu, nelayan setempat, yang turut mengawal tumpeng dari atas kapal.

Momen paling dinanti pun tiba ketika tumpeng manten dan tumpeng agung dibawa ke tengah laut. Di tengah konvoi kapal yang mengelilingi, prosesi larung dilakukan dengan penuh penghormatan. Tumpeng kemudian dipurak dan dilepaskan ke laut sebagai simbol sedekah bumi dan laut—ungkapan syukur sekaligus doa keselamatan bagi para nelayan.

Menurut Restu, tokoh masyarakat pesisir, konvoi kapal menjadi daya tarik utama yang terus berkembang. “Ini bukan hanya ritual, tapi juga kebersamaan. Semua terlibat, dari menghias kapal sampai ikut mengantar ke tengah laut,” ujarnya.

Ia menambahkan, tradisi ini tetap lestari berkat gotong royong masyarakat nelayan di , tanpa bergantung penuh pada dukungan anggaran pemerintah.

Kemeriahan di laut ini menjadi penegas bahwa Larung Sembonyo bukan sekadar upacara adat, melainkan perayaan budaya yang hidup. Konvoi kapal berhias, antusiasme warga, serta perpaduan antara sakralitas dan festival menjadikan tradisi ini sebagai ikon pesisir selatan Trenggalek yang terus memikat dari tahun ke tahun.

Di tengah arus modernisasi, Larung Sembonyo tetap berdiri sebagai simbol kuat hubungan manusia dengan laut—dirayakan bersama, diarak bersama, dan disyukuri bersama, di atas gelombang yang tak pernah berhenti bercerita.

Wartawan : Bayu Krisna

Tinggalkan Balasan