NEWSTUJUH.ID, MADIUN – Tidak semua orang benar-benar memahami keris. Selain bentuk fisiknya yang beragam, menentukan asal-usul, usia, hingga era kerajaan tempat keris dibuat bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan pengetahuan sejarah, empu, serta pemahaman terhadap karakter bilah, pamor, dan garap keris.
Di tengah masyarakat, tidak sedikit orang yang mengaku mampu menilai keaslian sebuah keris hanya dari tampilan luarnya. Namun, penilaian tersebut kerap berbeda antara satu pemerhati keris dengan pemerhati lainnya. Perbedaan sudut pandang itu menunjukkan bahwa ilmu perkerisan memiliki kajian yang cukup luas dan kompleks.
Sebagai salah satu mahakarya budaya Indonesia, keris telah diakui UNESCO sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity sejak tahun 2005. Pengakuan tersebut menyatakan bahwa keris memiliki nilai budaya yang tinggi dan perlu dilestarikan melalui pemahaman yang benar, bukan hanya dikaitkan dengan mitos maupun kepercayaan yang berkembang di masyarakat.
Muhammad Amar, pemerhati sejarah berdarah Tionghoa asal Surakarta yang kini berada di Madiun dalam misi religiusnya, menilai masih banyak kesalahpahaman masyarakat terhadap benda pusaka tersebut.
“Keris merupakan warisan budaya yang perlu dipahami dari sisi sejarah dan nilai filosofinya, bukan sekadar dikaitkan dengan mitos”, tukas Amar, Kamis (23/07/2026).
Amar juga menyoroti fenomena keris yang diperjualbelikan dengan istilah “dimaharkan” hingga bernilai fantastis.
“Dari sudut pandang mitologi maupun nilai budaya yang berkembang di masyarakat, praktik tersebut masih menjadi perdebatan dan tidak sedikit pihak yang menganggapnya tidak semestinya dilakukan”, tegasnya.
Ia menjelaskan, tidak jarang sebuah keris yang sebenarnya merupakan pusaka turun-temurun justru dianggap sebagai keris buatan baru. Penilaian tersebut sering muncul karena kondisi keris masih terlihat bersih dan terawat berkat perawatan rutin yang dilakukan oleh pemiliknya.
Sebaliknya, ada pula keris yang terlihat tua karena kurang mendapatkan perawatan, sehingga masyarakat awam langsung menganggapnya lebih bernilai sejarah. Padahal, usia dan keaslian keris tidak dapat ditentukan hanya dari penampilan fisik semata, melainkan harus melalui kajian yang mendalam oleh mereka yang memahami dunia perkerisan.
Baca Juga : Desa Tanjungrejo Gelar Jamasan Pusaka Massal dan Resmikan Wisma Budaya
Karena itu, Amar mengajak masyarakat untuk tidak terburu-buru memberikan penilaian terhadap sebuah keris. Menurutnya, diperlukan sikap terbuka untuk belajar dari para ahli dan pemerhati keris agar warisan budaya Nusantara tersebut dapat dipahami secara utuh, baik dari sisi sejarah, filosofi, maupun nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
“Kalau ingin memahami keris, belajarlah kepada orang-orang yang benar-benar memahami dunia perkerisan. Dengan begitu kita dapat menghargai keris sebagai warisan budaya, bukan sekadar benda yang dipenuhi cerita mistis,” pungkas Amar.
Melalui pemahaman yang benar, keris diharapkan tetap menjadi simbol identitas budaya Indonesia sekaligus warisan leluhur yang dapat dikenalkan kepada generasi muda sebagai bagian dari sejarah dan kekayaan peradaban Nusantara.







