NEWSTUJUH.ID, MADIUN – Tradisi Lebaran yang identik dengan silaturahmi mulai mengalami pergeseran. Di tengah momen kebersamaan, muncul fenomena yang menunjukkan Lebaran sebagai ajang menampilkan pencapaian ekonomi dan status sosial.
Fenomena Lebaran Jadi Ajang Pamer Status Sosial
Fenomena Lebaran yang mulai bergeser menjadi ajang pamer status sosial mencerminkan perubahan dalam cara masyarakat memaknai interaksi saat momen tersebut. Simbol kemapanan tidak lagi sekadar pelengkap, tetapi menjadi bagian yang diperhatikan dalam pertemuan keluarga. Hal ini membuat percakapan tidak hanya berfokus pada silaturahmi, tetapi juga pada representasi pencapaian yang ditampilkan secara langsung maupun tidak langsung.
Kondisi ini membentuk pola interaksi yang dipengaruhi oleh persepsi sosial. Individu cenderung menilai dan dinilai berdasarkan apa yang terlihat, sehingga muncul dorongan untuk menyesuaikan diri dengan standar lingkungan. Dalam situasi ini, atribut yang mencerminkan kondisi ekonomi menjadi cara untuk mempertahankan posisi dalam kelompok sosial.
Implikasinya, makna kebersamaan dapat mengalami pergeseran karena perhatian tidak lagi sepenuhnya tertuju pada hubungan antarindividu. Fokus yang berubah ini berpotensi menciptakan tekanan bagi sebagian orang, terutama ketika ada kebutuhan untuk terlihat setara.
Pengaruh Media Sosial terhadap Perilaku Konsumsi Saat Lebaran
Pengaruh media sosial terhadap perilaku konsumsi saat Lebaran terlihat dari cara individu membentuk persepsi terhadap standar yang dianggap ideal. Konten yang menampilkan gaya hidup dan pencapaian menjadi referensi yang membentuk ekspektasi.
Pengamat ekonomi asal Kota Madiun, Rachmadi, menilai fenomena ini dipengaruhi budaya komparatif yang semakin kuat di masyarakat.
“Secara tidak langsung, ada dorongan untuk menunjukkan capaian ekonomi kepada lingkungan sekitar. Ini dipengaruhi budaya komparatif yang semakin kuat, terutama dengan adanya media sosial,” ujar Rachmadi, Kamis (19/03/2026).
Paparan media sosial membuat individu tidak hanya melihat, tetapi juga membandingkan kondisi diri dengan orang lain. Hal ini mendorong keinginan untuk menyesuaikan diri dengan standar yang terbentuk.
Baca juga: Tradisi Angpao Lebaran, Simbol Berbagi Kebahagiaan di Hari Raya
Tekanan Sosial Picu Konsumsi Berlebihan
Tekanan sosial yang muncul saat Lebaran mendorong sebagian masyarakat untuk menyesuaikan pengeluaran agar tetap terlihat setara. Dorongan ini terbentuk dari interaksi dan persepsi terhadap lingkungan sosial. Penilaian yang muncul dalam pertemuan keluarga atau lingkungan sekitar membuat individu merasa perlu memenuhi standar yang dianggap berlaku, meskipun tidak selalu sesuai dengan kondisi pribadi.
Dalam kondisi tersebut, batas antara kebutuhan dan keinginan menjadi kurang jelas. Pengeluaran dilakukan untuk menjaga citra, sehingga pertimbangan rasional sering kali berkurang. Keputusan yang diambil lebih dipengaruhi oleh dorongan untuk diterima dalam lingkungan sosial dibandingkan dengan perencanaan yang matang.
“Ini yang perlu diwaspadai. Ketika silaturahmi berubah menjadi ajang pembuktian status, maka esensi Lebaran bisa bergeser,” kata Rachmadi.
Implikasinya, konsumsi berlebihan dapat terjadi tanpa disadari karena keputusan tidak didasarkan pada prioritas kebutuhan. Pengeluaran yang meningkat dalam waktu singkat berpotensi menimbulkan tekanan finansial setelah Lebaran. Jika pola ini terus berulang, kebiasaan konsumtif dapat semakin menguat dan memengaruhi kestabilan ekonomi dalam jangka panjang.
Risiko Keuangan di Balik Budaya Pamer Lebaran
Pentingnya Kembali ke Makna Sederhana Lebaran
Rachmadi menekankan pentingnya kesadaran masyarakat untuk mengembalikan makna Lebaran sebagai momen mempererat hubungan sosial.
Ia mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola pengeluaran dan tidak terjebak dalam budaya pamer.
Ketika fokus diarahkan pada hubungan antarindividu, tekanan untuk memenuhi ekspektasi eksternal dapat berkurang. Hal ini membantu menciptakan suasana yang lebih inklusif, di mana setiap orang dapat terlibat tanpa harus mempertimbangkan perbedaan kondisi ekonomi.
Kesadaran untuk mengelola pengeluaran secara bijak juga berperan dalam menjaga keseimbangan selama perayaan. Dengan menempatkan kebutuhan sebagai prioritas, keputusan yang diambil menjadi lebih terkontrol dan tidak dipengaruhi oleh dorongan untuk menunjukkan sesuatu. Pendekatan ini memungkinkan individu menjalani Lebaran dengan kondisi yang lebih stabil, tanpa terbebani oleh pengeluaran yang tidak direncanakan.
Implikasinya, menjaga kesederhanaan dapat memperkuat kualitas hubungan sosial yang terjalin. Interaksi tidak lagi didominasi oleh simbol atau pencapaian, tetapi oleh nilai kebersamaan yang lebih mendalam. Jika pola ini diterapkan secara konsisten, Lebaran dapat tetap menjadi momen yang bermakna tanpa disertai tekanan sosial maupun risiko finansial setelah perayaan berakhir.
Wartawan: Tim Redaksi Newstujuh








