Cerita Ibu Korban Peluru Nyasar di Gresik, Dari Amplop Rp5 Juta hingga Luka Seumur Hidup

NEWSTUJUH.ID, GRESIK — Di balik kasus peluru nyasar yang melukai siswa SMP di Gresik, tersimpan cerita panjang seorang ibu yang berjuang untuk anaknya. Bukan hanya menghadapi luka fisik, tetapi juga proses pemulihan, beban biaya, hingga upaya mencari keadilan.

Darrell Fausta Hamdani (14) menjadi salah satu korban dalam peristiwa yang terjadi pada 17 Desember 2025. Saat itu, ia tengah berada di musala sekolah ketika peluru tiba-tiba mengenai tangan kirinya.

Dari Aktivitas Biasa Berujung Operasi

Menurut ibunda korban, Dewi Murniati, saat kejadian anaknya tidak sedang melakukan aktivitas berisiko.

“Anak saya hanya membaca brosur di musala dan tidak ke mana-mana. Tiba-tiba terkena peluru di tangan kirinya,” ujarnya.

Peluru tersebut menembus lengan hingga mengenai tulang dan bersarang di punggung tangan. Kondisi ini membuat Darrell harus menjalani operasi dengan pemasangan pen.

Namun, kondisi pascaoperasi tidak berjalan mudah.

“Sekarang tangannya tidak bisa ditekuk maupun diluruskan secara normal,” kata Dewi.

Ia menyebut kondisi tersebut berpotensi menjadi cacat permanen yang akan berdampak sepanjang hidup anaknya.

Amplop Rp5 Juta dan Perbedaan Makna

Dalam proses penanganan, Dewi mengaku sempat menerima amplop berisi uang sekitar Rp5 juta.

Ia menyebut uang tersebut disampaikan sebagai bantuan untuk biaya transportasi dan kebutuhan keluarga selama mendampingi anak di rumah sakit.

Namun, ia mengaku keberatan ketika ada pernyataan yang menyebut uang tersebut sebagai kompensasi.

“Kalau itu untuk transport dan makan, kami masih bisa terima. Tapi kalau disebut kompensasi, tentu tidak sebanding,” ujarnya.

Dewi juga mengaku sempat mendapat pernyataan yang membuatnya tidak nyaman.

Ia menyebut ada anggapan bahwa laporan yang dibuat berkaitan dengan kurangnya kompensasi yang diterima.

Baca juga: Mediasi Kasus Peluru Nyasar Gresik Buntu, TNI AL Soroti Tuntutan Rp3,3 Miliar

Luka yang Tidak Sekadar Fisik

Bagi Dewi, luka yang dialami anaknya bukan sekadar persoalan medis.

Ia menyebut kondisi tangan Darrell yang tidak bisa kembali normal menjadi beban jangka panjang.

“Coba anak kamu ditembak, lalu dikasih Rp5 juta. Mau tidak? Pasti tidak,” ucapnya.

Selain dampak fisik, keluarga juga menghadapi tekanan psikologis yang tidak ringan.

Biaya Pengobatan dan Beban Lanjutan

Dewi membenarkan bahwa biaya operasi awal sekitar Rp32 juta telah ditanggung. Namun, ia menyebut biaya lanjutan tidak sepenuhnya ditanggung.

Menurutnya, biaya kontrol berikutnya, terapi, hingga pendampingan psikolog harus ditanggung secara mandiri oleh keluarga.

Ia juga mengaku sempat mendengar pernyataan yang menyebut trauma psikologis anaknya belum tentu sepenuhnya disebabkan oleh insiden tersebut.

Hal ini, menurutnya, semakin menambah beban yang harus dihadapi keluarga.

Upaya Mencari Keadilan

Setelah mediasi tidak mencapai kesepakatan, Dewi melaporkan kasus tersebut ke Polisi Militer Angkatan Laut pada 5 Februari 2026.

Ia menegaskan bahwa langkah tersebut diambil untuk mendapatkan kejelasan dan tanggung jawab atas kejadian yang menimpa anaknya.

“Kami hanya ingin ada kejelasan dan keadilan,” ujarnya.

Kasus Masih Berjalan

Hingga kini, kasus peluru nyasar di Gresik masih dalam proses penyelidikan.

Peristiwa ini menjadi perhatian publik karena menyangkut keselamatan anak-anak di lingkungan sekolah serta pentingnya transparansi dalam penanganan kasus.

Baca juga: Kasus Peluru Nyasar Siswa SMP di Gresik Belum Temui Titik Terang

Andre Achiat Fadly

Andre Achiat Fadly adalah editor di News Tujuh yang berfokus pada pengelolaan konten digital dan pengembangan struktur berita berbasis SEO. Dalam perannya di redaksi, ia terlibat dalam proses penyuntingan artikel, penyesuaian struktur berita online, serta pengelolaan konten agar sesuai dengan standar editorial media digital. Andre memiliki pengalaman dalam pengelolaan media digital dan pengembangan proyek konten berbasis teknologi. Ia memiliki spesialisasi dalam struktur berita online, optimasi SEO untuk media digital, serta strategi pengelolaan konten agar informasi dapat tersaji secara jelas dan mudah diakses oleh pembaca. Ia merupakan lulusan S1 Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang dan telah menyelesaikan program Fullstack Digital Marketing di Rakamin Academy. Selain aktivitasnya di dunia media digital, Andre juga aktif sebagai content creator di platform media sosial.

Related Posts

Kebakaran Lahan Tebu 1,2 Hektare di Andong, Babinsa dan Damkar Bergerak Cepat

NEWSTUJUH.ID, BOYOLALI – Kobaran api kembali mengancam lahan pertanian warga. Kebakaran melanda sekitar 1,2 hektare lahan tebu milik Ibu Dariyah di Desa Senggrong, Kecamatan Andong, Kabupaten Boyolali, Senin malam (31/8/2026).…

Lebih dari 100 Santri di Sidoarjo Diduga Keracunan Usai Santap MBG

NEWSTUJUH.ID, SIDOARJO – Lebih dari 100 santri Pondok Pesantren Manba’ul Hikam di Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, dilaporkan mengalami gejala mual dan muntah setelah menyantap makanan dari program Makan…

You Missed

Bareskrim Nyatakan Perkara TPPU Indosterling P-21, Aset Rp84 Miliar Disita

Bareskrim Nyatakan Perkara TPPU Indosterling P-21, Aset Rp84 Miliar Disita

Aturan Baru BBM Subsidi Wajib Bawa STNK, Warga Kota Madiun Mengeluh Antrean Pertalite

  • By Hernawan
  • September 3, 2026
  • 53 views
Aturan Baru BBM Subsidi Wajib Bawa STNK, Warga Kota Madiun Mengeluh Antrean Pertalite

Bersih Desa Pojok Tulungagung Meriah, Wayang Kulit dan Dagelan Hibur Warga

Bersih Desa Pojok Tulungagung Meriah, Wayang Kulit dan Dagelan Hibur Warga

Kebakaran Lahan Tebu 1,2 Hektare di Andong, Babinsa dan Damkar Bergerak Cepat

Kebakaran Lahan Tebu 1,2 Hektare di Andong, Babinsa dan Damkar Bergerak Cepat

Lebih dari 100 Santri di Sidoarjo Diduga Keracunan Usai Santap MBG

  • By Hernawan
  • September 2, 2026
  • 19 views
Lebih dari 100 Santri di Sidoarjo Diduga Keracunan Usai Santap MBG

Ribuan Warga Padati Kirab Pusaka Hari Jadi Trenggalek ke-832

Ribuan Warga Padati Kirab Pusaka Hari Jadi Trenggalek ke-832